Pendahuluan
Mendesain furnitur sendiri memang terdengar menyenangkan. Kita bisa menentukan model, warna, dan ukuran sesuai selera. Tapi sering kali setelah furnitur jadi dan diletakkan di ruangan, hasilnya terasa janggal. Entah terlalu besar, terlalu kecil, atau malah bikin ruangan terasa penuh. Kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal ukurannya sudah kita tentukan sendiri. Yuk, kita bahas penyebabnya satu per satu.
1. Mengukur Ruangan Tanpa Memperhitungkan Sirkulasi
Saat mengukur ruangan, kita biasanya hanya fokus pada panjang dan lebar dinding. Padahal, ruangan juga butuh ruang gerak untuk kita beraktivitas. Misalnya, jarak antara sofa dan meja TV minimal 60-80 cm agar kita bisa lewat dengan nyaman. Jika furnitur dibuat pas sesuai ukuran dinding, bisa dipastikan ruangan akan terasa sempit karena tidak ada ruang untuk bergerak.
Selain itu, perlu diingat juga jalur pintu, jendela, dan area lalu lalang. Jangan sampai furnitur menghalangi akses tersebut. Coba bayangkan jika kita membuat lemari sepanjang dinding tanpa menyisakan ruang untuk membuka pintu lemari. Bukan tidak mungkin lemari itu malah tidak bisa digunakan dengan leluasa.
2. Terlalu Fokus pada Tampilan, Lupa Fungsi
Desain furnitur sendiri sering kali mengutamakan estetika. Kita ingin furnitur terlihat unik dan Instagramable. Tapi, kadang kita lupa mempertimbangkan kenyamanan pemakaian. Contohnya, membuat meja makan dengan bentuk unik tapi tidak ergonomis. Kursi yang terlalu rendah atau meja yang terlalu tinggi bisa membuat punggung cepat pegal.
Selain itu, ukuran furnitur juga harus sesuai dengan proporsi tubuh pengguna. Misalnya, sofa dengan kedalaman 90 cm mungkin terasa nyaman untuk orang bertubuh tinggi, tapi tidak untuk orang yang lebih pendek. Jadi, penting untuk menyesuaikan ukuran furnitur dengan kebutuhan dan kenyamanan pengguna.
3. Tidak Memperhitungkan Skala Ruangan
Setiap ruangan memiliki skala yang berbeda. Ruangan dengan plafon tinggi akan terasa berbeda jika diisi furnitur berukuran besar. Sebaliknya, furnitur kecil di ruangan besar bisa terlihat tenggelam. Sering kali kita membuat furnitur berdasarkan ukuran standar tanpa melihat proporsi ruangan secara keseluruhan.
Misalnya, sofa minimalis dengan ukuran 2 meter mungkin pas untuk ruangan 3x3 meter, tapi akan terasa kecil di ruangan 5x5 meter. Begitu juga sebaliknya. Jadi, penting untuk mempertimbangkan skala ruangan secara keseluruhan, termasuk tinggi plafon dan luas lantai.
4. Mengabaikan Bentuk dan Letak Pintu serta Jendela
Pintu dan jendela adalah elemen penting yang mempengaruhi tata letak furnitur. Jika furnitur dibuat tanpa memperhitungkan posisi pintu dan jendela, bisa jadi furnitur tersebut menghalangi pandangan keluar atau menghalangi masuknya cahaya alami. Misalnya, lemari tinggi yang diletakkan di depan jendela akan membuat ruangan gelap dan pengap.
Selain itu, bentuk pintu yang membuka ke dalam juga perlu diperhitungkan. Jangan sampai furnitur menghalangi pintu saat dibuka. Hal ini sering terlewat karena kita terlalu fokus pada dimensi ruangan secara keseluruhan.
5. Tidak Mempertimbangkan Kebiasaan dan Aktivitas Sehari-hari
Setiap orang memiliki kebiasaan berbeda dalam menggunakan ruangan. Ada yang suka duduk santai di lantai, ada yang suka bersantai di sofa. Jika furnitur dibuat tanpa mempertimbangkan kebiasaan ini, bisa jadi furnitur tersebut tidak terpakai maksimal. Misalnya, membuat meja kopi yang terlalu rendah sehingga tidak nyaman untuk meletakkan minuman atau makanan.
Selain itu, pertimbangkan juga aktivitas lain seperti menonton TV, membaca, atau bermain dengan anak. Furnitur yang terlalu besar bisa menghalangi pandangan ke TV, sementara furnitur yang terlalu kecil tidak cukup untuk menyimpan barang-barang.
6. Kurangnya Pemahaman tentang Material dan Ketebalan
Saat mendesain furnitur, kita mungkin memilih material tertentu tanpa mempertimbangkan ketebalannya. Padahal, ketebalan material mempengaruhi dimensi akhir furnitur. Misalnya, kayu solid dengan ketebalan 3 cm akan menghasilkan furnitur yang lebih besar dibandingkan kayu lapis dengan ketebalan 1,8 cm, meskipun ukuran luarnya sama.
Selain itu, material juga mempengaruhi berat dan kekuatan furnitur. Furnitur dari kayu solid mungkin lebih berat dan sulit dipindahkan, sementara furnitur dari multipleks lebih ringan. Jadi, pertimbangkan juga aspek ini agar furnitur tidak hanya pas secara ukuran tetapi juga mudah digunakan.
7. Tidak Menggunakan Bantuan Profesional
Banyak orang merasa cukup mengukur sendiri dan menggambar sketsa sederhana. Padahal, desain furnitur yang baik memerlukan pemahaman tentang ergonomi, proporsi, dan tata ruang. Tanpa bantuan profesional, risiko kesalahan ukuran menjadi lebih besar. Konsultan desain interior atau pembuat furnitur berpengalaman dapat membantu menghitung dengan cermat dan memberikan saran yang sesuai dengan kebutuhan.
Selain itu, mereka juga bisa memberikan gambaran visual seperti rendering 3D sehingga kita bisa melihat bagaimana furnitur akan terlihat di ruangan sebelum diproduksi. Ini tentu menghemat biaya dan waktu jika terjadi kesalahan.
Kesimpulan
Mendesain furnitur sendiri memang memberi kepuasan tersendiri. Namun, agar hasilnya tidak mengecewakan, penting untuk mempertimbangkan berbagai faktor seperti sirkulasi ruangan, skala, fungsi, dan kebiasaan sehari-hari. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahlinya jika merasa kesulitan. Dengan perencanaan yang matang, furnitur yang Anda desain sendiri bisa benar-benar pas dan nyaman digunakan.
Jika Anda ingin mewujudkan furnitur impian yang sesuai ukuran ruangan, tim desain interior berpengalaman siap membantu. Mereka dapat memberikan solusi terbaik mulai dari pengukuran hingga produksi.